Seni Menikmati Hidup
Renungan GEMA 2012
07 February 2012 Pengkhotbah 9Meskipun tampaknya penuh dengan pergumulan yang tak pernah habis-habisnya, tetapi hidup ini adalah anugerah Allah yang Ia rancang untuk kita nikmati dalam hidup menurut cara dan maksud-Nya.
Hidup adalah sukacita, karena berasal dari Tuhan; tetapi ironisnya banyak orang yang menjalani hidup penuh kesedihan, bahkan tidak sedikit yang mati dalam kepahitan. Kita akan mampu menjalani dan menikmati hidup ini secara penuh jika kita melihatnya sebagai berkat Allah. Dalam perikop ini Pengkhotbah mengajak kita untuk menikmati anugerah Allah dalam empat segi kehidupan. Pertama, nikmatilah kegembiraan hidup (9:7). Hal yang paling mendasar untuk menikmati hidup adalah hal makan dan minum. Pengkhotbah menggambarkan makan dan minum sebagai berkat dasar dari Tuhan sekaligus suatu cara untuk bersukacita yang memperkenan Allah (9:7). Kedua, nikmatilah hidup yang teratur (9:8). Pada zaman itu, pakaian putih adalah pakaian yang biasa dipakai untuk pesta, sedangkan minyak adalah benda kosmetika yang mewah dan mahal harganya. Pakaian putih dan minyak adalah gambaran sukacita dan keteraturan. Di sini Pengkhotbah mendorong kita agar menikmati keteraturan yang disediakan Allah. Ketiga, nikmatilah hidup pernikahan kita (9:9). Keempat, nikmatilah hari ini. Pengkhotbah memberi nasehat, apa yang dijumpai tangan kita, kerjakanlah dengan sekuat tenaga supaya Tuhan dimuliakan melalui apa yang ada pada kita hari ini (9:10).
Empat hal itulah seni menikmati hidup sederhana yang dipaparkan Pengkhotbah yang akan membuat hidup kita penuh sukacita karena menyadari bahwa Allah berkenan akan semuanya itu. Hidup ini adalah anugerah Allah yang layak kita nikmati menurut cara dan maksud-Nya yang sempurna [JS]
Pengkhotbah 9:7-8
"Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu. Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu."




