Saat untuk Berkorban
Renungan GEMA 2010
22 December 2010 Lukas 1: 26-38Pelayanan Maria sebagai Ibu Yesus di dunia membutuhkan pengorbanan. Namun, hal itu diterimanya dengan tulus karena ia menyadari bahwa dirinya adalah hamba Tuhan yang harus selalu siap melakukan perintah-Nya.
Tugas menjadi Ibu Yesus bagi Maria sangatlah tidak terduga dan tentu saja bukan tugas yang mudah. Karena kehamilannya ini, ia bisa dirajam batu sampai mati-sesuai dengan kebiasaan saat itu (Ulangan 22:23-24). Mungkin juga, ia akan diceraikan oleh Yusuf-tunangannya. Ia juga harus menghadapi bisik-bisik tetangga dan penghakiman mereka atas dirinya serta cap sebagai wanita tidak baik yang hamil sebelum menikah. Namun, dengan tulus dan rendah hati, Maria rela mengorbankan dirinya dan masa depannya untuk dipakai menjadi bagian dari rencana besar Allah bagi dunia ini.
Karena sebenarnya setiap orang adalah hamba Tuhan, seharusnya kita bersikap seperti Maria yang rela mengorbankan diri-Nya untuk melakukan kehendak Allah. Apakah kita memiliki sikap hati seperti itu? Apakah kita mau menyerahkan masa depan dan cita-cita kita untuk menjadi bagian dari rencana Allah? Ketika Allah memanggil kita untuk melayani-Nya, apakah kita merasa berat saat harus mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan mungkin juga uang kita? Pengorbanan diri kita tidak seberapa bila dibandingkan dengan pengorbanan Maria, apalagi bila dibandingkan dengan apa yang telah Allah lakukan untuk kita. Natal adalah saat yang tepat untuk menyerahkan diri agar kita bisa dipakai menjadi alat bagi pekerjaan Tuhan, yaitu menjadi bagian dari rencana besar Allah bagi dunia ini. Anda belum terlambat, Natal adalah saat yang tepat untuk berkorban. [MS]
Lukas 1:38
Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.




